Senin, 26 Desember 2022

5 Hal ini Didapat dari Hidup, bukan Orang Tua

 Ini adalah terjemahan dari situs Aljazeera.

Sumber: Aljazera

Orang tua adalah alasan kita ada di dunia ini. Mereka adalah guru pertama kita semenjak kita dilahirkan. Sebagaimana seorang anak yang memiliki kemiripan genetik, sifat dan perilaku anak juga tergantung dari orang tuanya. Tidak peduli baik atau buruk, sifat dan perilaku anak akan terbawa sampai ia dewasa. Sifat tersebut tergantung dengan kebiasaan orang tuanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Mutanabbi:

“Mengubah suatu kebiasaan itu merupakan perubahan yang sangat sulit.”

Al-Imam Ghazali juga berkata:

“Pendidikan di rumah sudah terlaksana sebelum pendidikan di sekolah atau masyarakat.”

Dalam keadaan apa pun, orang yang berhasil adalah orang yang dapat memilih lingkungan yang ia tinggali. Setiap generasi memiliki zamannya masing-masing. Berikut adalah lima pelajaran hidup yang saya dapati selain dari rumah dan sekolah:

1. Bahasa Arab itu kunci segalanya

Pada waktu kecil, orang tua keluarga Somalia memberikan pembelajaran Al-Qur’an kepada anak-anak mereka. Pembelajaran ini pun menjadi salah satu persyaratan memasuki sekolah. Kebiasaan tersebut merupakan sesuatu yang hanya sering ditemui di wilayah pedesaan atau perkotaan Somalia. Setelah itu, para orang tua fokus untuk membuat anaknya mahir berbahasa Arab, mulai dari sintaksisnya, morfologinya, sampai ke sastra. Hal ini seakan-akan anak berada di lingkungan pembelajaran bahasa Arab mulai dari mempelajari kitab Alfiyyah Ibn Malik beserta syarahnya, sampai ke pembacaan nadzhom Imrity di setiap pagi dan petang hari:

وَالنَّحْوُ أَوْلٰى أَوَّلًا أَنْ يُعْلَمَا إِذِ الْكَلَامُ دُوْنَهُ لَنْ يُفْهَمَا

“Ilmu nahwu itu lebih berhak pertama kali untuk dipelajari, karena kalam arab tanpa nahwu, tidak akan bisa dipahami” (Ini adalah salah satu nadzhom Imrithy)

Hal ini sangat bagus. Namun, beberapa orang tua enggan mengajarkan anaknya agar mahir berbahasa Inggris dan tidak peduli sama sekali mengenai hal tersebut.

Kehidupan mengajarkan saya bahwa bahasa Inggris itu kunci dunia, pasarnya pekerjaan, dan wadahnya segala pengetahuan. Siapa pun yang ingin masuk ke ranah internasional, ia harus menguasai bahasa Inggris sebagaimana ia menguasai bahasa pertamanya.

Sekarang, bahasa Inggris juga menjadi salah satu persyaratan diterimanya seseorang pada bangku perkuliahan Pascasarjana. Oleh karena itu, jangan halangi buah hati Anda dalam mempelajari bahasa asing.

 

2. Jadilah Multitalenta

Sering kali kita mendengar perkataan, “Dia hebat”, “Dia juga pandai membuat syair”, “Dia juga pandai hadis”, “Dia juga seorang dokter yang terkenal seperti Ibnu Sina”. Ucapan tersebut seakan-akan menilai bahwa orang lain adalah orang yang memiliki ribuan kemampuan. Ia melakukan segala hal sendiri dan tidak bergantung kepada siapa pun. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Tughrai:

وانما رجل الدنيا وواحدها من لا يعوّل في الدنيا على رجل

“Manusia yang hebat adalah mereka yang tidak bergantung kepada siapa pun”

Perkataan ini mungkin cocok untuk zaman dahulu, namun tidak di zaman sekarang. Kita hidup di dunia yang mana setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing. Siapa pun yang mencari segalanya akan kehilangan segalanya. Seseorang pun juga mustahil hidup sendiri.

3. Pernikahan dan Tirani Laki-laki

Beberapa keluarga beranggapan bahwa pernikahan itu dapat menjadikan seorang suami sebagai raja. Namun, kehidupan mengajarkan saya bahwa seseorang yang mencintai akan tunduk dengan yang dicintai. Pernikahan itu didasari dengan sebuah perjanjian di antara kedua belah pihak dan sudah dimusyawarahkan mengenai membangun rumah tangga yang ideal tanpa menimbulkan masalah

4. Rasa sakit dipukul itu sementara, ilmu dan adab itu kekal

Orang tua kita percaya bahwa mendidik yang benar itu dengan menggunakan kekerasan. Hal ini didukung dengan syair yang berbunyi:

لا تحزنَ على الصبيانِ إنْ ضُرِبُوا فالضرب يبرا ويبقى العلمُ والأدبُ.

الضربُ ينفعُهُم والعلمُ يرفعُهُم لولا المخافة ما قرأوا وما كتبوا

لولا المُعَلِّمُ كان الناسُ كلُهُمُ شبه البهائمِ لا علمٌ ولا أدبُ

“Janganlah kamu sedih apabila anakmu dipukul. Rasa sakitnya itu sementara, sedangkan ilmu dan adab itu akan tetap ada selamanya.

Pukulan itu bermanfaat dan ilmu itu mengangkat derajat mereka. Kalau bukan karena takut dipukul, mereka tidak akan membaca dan menulis.

Tanpa adanya seorang guru, manusia akan seperti binatang yang tidak memiliki ilmu ada adab.”

Namun, kehidupan mengajarkan saya bahwa kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan. Kebaikan itu bukan merupakan hasil dari kekerasan. Tata cara mendidik itu banyak, sedangkan paksaan itu tidak akan bermanfaat. Walau rasa takut itu akan berakhir, sejatinya rasa tersebut berubah menjadi balas dendam. Bahkan, dendam ini akan dilampiaskan ke generasi setelahnya yang lebih muda. Kebaikan adalah pilihan terbaik dalam mendidik.

5. Somalia Raya dan Tanah Air

Pada masa awal dan di setiap rumah orang Somalia, para leluhur menceritakan tentang Somalia Raya dan pembagian wilayahnya yang dilakukan oleh musuh. Salah satu kisah uniknya, dikatakan bahwa bintang di bendera Somalia mengacu kepada lima wilayah Somalia. Seiring berjalannya waktu, kehidupan mengajarkan saya bahwa yang membagi wilayah itu bukan musuh, melainkan rakyatnya sendiri. Setiap orang memiliki bendera, tentara, dan perbatasan yang disengketakan. Siapa pun yang masih beranggapan seperti awal akan dianggap kuno.

0 komentar:

Posting Komentar